Story of My Idul Adha 1438 H

Sejak matahari teberbenam di ufuk barat, takbiran mulai terdengar di berbagai tempat. Malam itu bertepatan tanggal 10 Dzulhijjah yang dimana pada pagi harinya, umat muslim seluruh dunia melaksanakan sholat eid dan berqurban.

Pelaksanaan qurban sendiri telah di contohkan oleh Nabi Ibrahim. Saat itu, Nabi Ibrahim bermimpi bahwa beliau diperintahkan oleh Allah Swt. untuk menyembelih anak satu-satunya, Nabi Ismail. Ketika menyampaikan kepada anaknya, Nabi Ismail tidak menolaknya dan berkata jika itu perintah dari Allah maka harus dilaksanakan. Tibalah saatnya Nabi Ismail akan disembelih oleh ayahnya sendiri. Ketika pisau akan mengenai lehernya, Allah menunjukkan mukjizatnya dengan menggantikan Nabi Ismail dengan domba. Akhirnya, domba itu tersembelih dan Nabi Ismail berada di dekat ayahnya.

Dari peristiwa itu, kita bisa melihat bahwa Nabi Ismail sangatlah bertaqwa kepada Allah, walaupun beliau harus disembelih oleh ayahnya sendiri, tapi Allah membalas atas ketaqwaan pada-Nya. Jadi, setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat muslim disunnahkan untuk berqurban hewan ternak yang dimana 1 bulunya bernilai 1 pahala. Bayangkan, 1 hewan saja bulunya tak dapat dihitung, betapa banyaknya pahala yang kita dapatkan jika kita berqurban. Subahanallah, Allah Maha Besar.

Kali ini dan pertama kalinya, aku merayakan idul adha di kota dimana aku sekolah, Surabaya. Aku tidak pulang karena aku menjadi panitia qurban di sekolah. Dari awal sudah rencana tidak pulang ke rumah, juga karena umi sedang melaksanakan rukun islam ke 5, jadinya gak pulang hehe.

Menjadi panitia qurban adalah hal yang pertama kali kurasakan. Walaupun bau dari hewan qurban yang membuat tangan menutup hidung , hal itu tak menghalangiku untuk melaksanakan. Banyak kegiatan yang kulakukan, seperti membantu panitia yang sedang memotong daging dengan mengasah pisaunya maupun menusukan daging yang sudah dipotong dadu ke tusuk sate. Tak hanya itu, 3 orang dari negara sakura pun turut hadir untuk melihat bagaimana pelaksanaan qurban. Pada siang harinya, daging yang sudah dipotong, ditimbang, lalu dimasukan kedalam kantong plastik dan diberikan kepada yang berhak menerimanya.​

Sorry, if this so disgusting

Met the Japanese!!!

Pembagian daging qurban
​Dari sini aku belajar, dengan berqurban, kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang sekitar, juga menambah ketaqwaan kepada Allah Swt. Tenaga yang terbuang pun tak sia-sia berkat acara ini. Thanks for those people that supported this event!

Iklan

After A Year In Al Uswah

Tak terasa, sudah lebih setahun diriku terdaftar sebagai siswi SMA IT Al Uswah Surabaya. Merantau sendiri ke kota yang tak pernah kujelajahi sebelumnya adalah hal yang baru untukku. Tinggal di asrama sudah pernah, tetapi berada di tempat yang jauh dari orangtua rasanya sangat berbeda. Terkadang merasa homesick. Pulang ke rumah pun tak bisa sesering seperti waktu SMP. Tapi, hal itu tak terlalu bermasalah bagiku. Saat hari pertama menginjakkan kaki di Kota Pahlawan ini, aku sudah bisa membayangkan betapa serunya mencari pengalaman di tempat yang berbeda.
Sangat banyak hal yang kualami dan kudapatkan setelah diriku beranjak ke bangku SMA. 3 hal dibawah ini yang sangat berkesan bagiku untuk diceritakan.

1) Teman Dari Berbagai Daerah

Kupikir hanya diriku yang terjauh yang tinggal di asrama. Ternyata tidak. Banyak temanku yang tinggal di berbagai daerah yang berbeda. Sidoarjo, Lumajang, Banyuwangi, bahkan ada yang dari Kalimantan dan Batam. Kami sama-sama ditakdirkan untuk berada di asrama SMA IT Al Uswah Surabaya dan itu membuatku merasa senasib dengan mereka yang sama-sama harus menuntut ilmu di tempat yang jauh dari rumah.

2) Berkomunikasi dengan Masyarakat

Hal ini awalnya sangat sulit bagiku. Aku yang dari Makassar tanpa modal dapat berbicara Bahasa Indonesia dengan baik menjadi tantangan tersendiri. Tak hanya Bahasa Indonesia, aku juga harus memahami logat, bahasa, dan pengucapan masyarakat Jawa Timur. Aku sering bertanya ke teman apa yang tidak kumengerti. Terkadang aku juga bisa dapat memahami sendiri apa yang diucapkan oleh orang-orang tanpa diberitahu terlebih dahulu.

3) Pentingnya Menuntut Ilmu

Aku baru menyadaribetapa pentingnya mencari ilmu yang akan berguna bagi masa depan. Hal ini membuatku sangat menyesal akan mengapa saat aku masih duduk di bangku SMP tidak belajar lebih giat? Saat SMP aku lebih sering bermalas-malasan, dan lebih mementingkan urusan sendiri daripada harus belajar. Dan mulai sekarang, aku akan mencari ilmu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya. Seperti kata Imam Syafi’i “Ilmu itu bukan untuk dihafal, tetapi yang memberi manfaat”.
Terima kasih untuk orangtuaku yang sudah menyekolahkanku di tempat yang sangat luar biasa ini. Juga buat guru-guru dan teman-teman SMA IT Al Uswah Surabaya yang sudah mengajariku artinya hidup dan memberikan pengalaman yang tak akan terlupakan. Semoga kalian selalu senantiasa dilindungi oleh Allah Swt. Amin.